Menu

Mode Gelap
Dukung Program Sejuta Vaksin HPV BBPOM, Wali Kota: Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Serviks  Rotary Club, GAMKI NTT, dan GMIT Baitesda Bangun 28 Jamban Sehat di Nekon Kredit Mulai Pulih, Bank NTT Optimis Capai Dividen Rp 43,6 Miliar pada 2026 DPRD NTT Sambut Positif Rencana Bandara El Tari Berstatus Internasional DPRD NTT Dorong Taman Budaya Gerson Poyk Jadi Mesin PAD Gandeng LPK Musubu, Bank NTT Sediakan KUR Khusus Pekerja Migran Asal NTT

Kilas NTT

59 Orang Meninggal Akibat Konflik dengan Buaya di NTT 

badge-check


					Buaya ukuran 2,4 meter berhasil diamankan petugas unit penanganan satwa BBKSDA NTT di Kali Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Perbesar

Buaya ukuran 2,4 meter berhasil diamankan petugas unit penanganan satwa BBKSDA NTT di Kali Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

SN, Kupang – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi NTT mencatat telah terjadi 59 korban akibat konflik antara biaya dan manusia di NTT dari tahun 2019 sampai 2025.

Dari 59 korban konflik tersebut tercatat 31 orang meninggal dan 28 orang luka hingga cacat.

59 korban tersebut paling banyak terjadi di Kabupaten Kupang dengan jumlah kasus sebanyak 19. Selanjutnya Kabupaten Malaka 9 khusus.

Diikuti Kabupaten Sumba Barat daya dan Sumba Timur masing-masing 7 kasus. Kabupaten Lembata 6 kasus dan Timor Tengah Selatan 5 kasus.

Disusul Kabupaten Rote Ndao dan Belu masing-masing 2 kasus. Selanjutnya Kabupaten Sikka dan Ende masing-masing 1 kasus.

Kepala BBKSDA NTT, Arief Mahmud mengatakan korban akibat serangan buaya paling banyak terjadi saat manusia melakukan aktivitas menangkap ikan dengan pukat.

“Ada 15 kasus serangan buaya saat melakukan aktivitas menangkap ikan dengan pukat,” kata Arief di Kupang pada Selasa 25 Februari 2025.

10 kasus serangan buaya juga terjadi saat saat aktivitas memanah ikan dan pacing. Kasus banyak juga terjadi saat cuci pakaian di sungai dan ambil air.

“Mencuci kaki setelah mancing dan mengambil bubu masing-masing juga terjadi serangan dengan dua kasus,” ucap Arief.

Korban serangan lainnya terjadi saat sedang mencari teripang, cuci sepeda motor di muara, bermain atau memandikan anjing di pantai.

Selanjutnya aktivitas memotong pohon bakau, mencari kepiting, ambil rumput laut dan menangkap ikan di tambak.

Arif juga mengatakan, awal tahun 2025, Balai Besar KSDA NTT telah menerima setidaknya 5 laporan munculnya buaya yang berpotensi mengakibatkan konflik dan korban.

Salah satu yang berhasil diamankan adalah buaya dengan ukuran 2,4 Meter di kali  Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

“Buaya muara ini diamankan BBKSDA NTT pada Senin 25 Februari 2025 pukul 13.54 Wita,” kata Arief.

Dia menghimbau kepada seluruh masyarakat NTT agar hati-hati melakukan aktivitas di perairan dekat muara atau sungai.

Pasalnya, luapan air akibat intensitas curah hujan yang tinggi ini membuka kesempatan buaya masuk sungai sungai ke arah daratan atau hulu.

Yang perlu dilakukan masyarakat adalah hindari beraktifitas pada lokasi-lokasi yang selama ini sudah diketahui merupakan tempat hidup buaya atau tempat yang sudah dipasang papan peringatan hati-hati terhadap buaya;

“Lokasi atau tempat melakukan aktivitas mencuci di pinggir sungai harus dipagar,” ujar Arief.

Masyarakat dapat menghubungi BBKSDA NTT pada Nomor Call Center +6281138104999 atau Instagram: @bbksda_ntt jika melihat aktivitas keberadaan buaya. (*/ErLim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemotongan TKD Kabupaten Alor Capai Rp140 Miliar, Wabup Optimis Program Bisa Berjalan 

12 November 2025 - 11:10 WIB

Aturan Pembatasan Peredaran Ternak Rugikan Pengusaha Babi Asal Sumba

28 Oktober 2025 - 06:48 WIB

Warga Desa Bone Usul Pembangunan Rumah Ibadah, Dewan: Butuh Perhatian Bersama 

8 Agustus 2025 - 05:42 WIB

Belum Nikmati Listrik PLN, Warga 10 Desa di Alor Masih Gunakan Lampu Pelita

1 Agustus 2025 - 05:17 WIB

Ucapan Selamat Merayakan Hari Raya Nyepi

27 Maret 2025 - 05:20 WIB

Trending di Kilas NTT