Penulis: Marselinus Anggur Ngganggus, ST, M.T. (Anggota DPRD NTT dari Fraksi PKB dan Komandan Panji Bangsa NYT)
Setiap kali tanah bergetar dan rumah roboh, yang pertama runtuh bukan hanya tembok. Yang runtuh adalah rasa aman. Tapi setiap kali itu terjadi, ada satu hal yang selalu bangkit: rasa persaudaraan.

Gempa Flores beberapa hari lalu kembali menguji kita. Di tengah puing, tenda darurat, dan air mata, kita kembali diingatkan satu hal sederhana: bahwa kita adalah satu bangsa.
1. Bencana Tidak Memilih KTP
Gempa tidak pernah bertanya: “Kamu pilih siapa? Agamamu apa? Bahasamu apa?” Gempa datang sama rata. Menghantam rumah nelayan, sekolah, puskesmas, kantor, rumah ibadat dengan cara yang sama.
Justru di titik inilah kita melihat wajah Indonesia yang asli. Tidak ada istilah “bantuan untuk pendukung 01 saja”. Yang ada hanya: “Mereka saudara kita. Mereka butuh kita.”
Relawan dari Aceh kirim tenda. Mahasiswa dari Jogja buka dapur umum. Dokter dari Kupang, Jakarta terbang ke pelosok. Pengusaha di Surabaya kumpulkan donasi.
Itu bukan charity. Itu adalah ekspresi persaudaraan. Bahwa luka di Flores adalah luka kita bersama.
2. Persaudaraan Diuji di Dapur Umum, Bukan di Pidato
Kita sering bicara “Bhinneka Tunggal Ika” di upacara. Tapi makna sebenarnya kita lihat di dapur umum pengungsian.
Di sana, ibu-ibu dari suku & agama berbeda masak bersama. Pemuda gereja dan masjid angkut air bersama. TNI, Polri, dan warga sipil tidur di alas yang sama.
Filsuf Michael Sandel pernah bilang: “Keadilan sejati lahir saat kita mau memikul beban bersama”.
Gempa Flores memaksa kita memikul beban itu. Dan ternyata, kita sanggup.
Persaudaraan bukan soal seragam. Persaudaraan adalah ketika kita rela tidak tidur demi memastikan tetangga kita punya nasi hangat malam ini.
3. Jangan Biarkan Persaudaraan Hanya Jadi “Respons Kedaruratan”
Masalahnya, kita paling bersaudara saat ada bencana. Setelah itu, kita kembali ke kubu masing-masing. Kembali saling hujat di media sosial. Kembali lupa.
Padahal refleksi dari Flores harusnya begini:
Kalau kita bisa gotong royong membangun kembali rumah warga Flores dalam 1 bulan, kenapa kita tidak bisa gotong royong membangun sekolah, puskesmas, dan jalan mereka dalam 1 tahun?
Bencana harusnya jadi guru. Bahwa membangun bangsa bukan cuma soal infrastruktur. Tapi soal menjaga ikatan.
Jangan sampai bantuan kita berhenti di tenda. Lanjutkan sampai ke beasiswa anak-anak yang rumahnya rusak. Lanjutkan sampai ke pelatihan agar mereka bisa bangkit sendiri. Itu baru persaudaraan yang utuh.
4. Pesan dari Flores untuk Kita Semua
Saudara-saudara kita di Flores hari ini sedang mengajarkan 2 hal:
Pertama, ketangguhan. Mereka kehilangan banyak, tapi tetap saling menguatkan, tetap tersenyum, tetap menyambut relawan dengan kopi.
Kedua, kerendahan hati. Mereka tidak minta dikasihani. Mereka minta ditemani. “Temani kami bangkit” katanya.
Dan kita, sebagai bangsa, jawabannya harus satu: “Kami di sini. Kami tidak meninggalkan.”
PENUTUP
Gempa akan berlalu. Luka di tanah akan pulih. Tapi semoga luka itu meninggalkan bekas: bekas kesadaran bahwa kita bersaudara.
Bukan karena kita sama. Tapi karena kita mau saling menjaga meski berbeda.
Karena pada akhirnya, ukuran bangsa yang besar bukan seberapa tinggi gedungnya. Tapi seberapa kuat ia memeluk warganya saat terjatuh.
Untuk Flores: Kami berduka. Kami hadir. Kami pulihkan bersama.
Untuk Indonesia: Mari jaga persaudaraan ini. Jangan tunggu bencana berikutnya.
Kupang, 23 Agustus 2026









