Menu

Mode Gelap
Dukung Program Sejuta Vaksin HPV BBPOM, Wali Kota: Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Serviks  Rotary Club, GAMKI NTT, dan GMIT Baitesda Bangun 28 Jamban Sehat di Nekon Kredit Mulai Pulih, Bank NTT Optimis Capai Dividen Rp 43,6 Miliar pada 2026 DPRD NTT Sambut Positif Rencana Bandara El Tari Berstatus Internasional DPRD NTT Dorong Taman Budaya Gerson Poyk Jadi Mesin PAD Gandeng LPK Musubu, Bank NTT Sediakan KUR Khusus Pekerja Migran Asal NTT

Kilas NTT

Konflik Buaya dan Manusia Kembali Terjadi di Kabupaten Kupang 

badge-check


					Foto : Istimewa/Ilustrasi Buaya Perbesar

Foto : Istimewa/Ilustrasi Buaya

Kupang – Konflik antara buaya dan manusia kembali terjadi di Suaka Margasatwa (SM) Danau Tuadale Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Serangan buaya kali ini menimpa Yafet Maak (50) warga Desa Sumlili RT 11, RW 06 Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Sebelumnya, pada 10 Februari 2025 korban yang jadi serangan buaya dialami Jiky Orlando (27).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Arief Mahmud mengatakan, Yafet diserang buaya saat memanah ikan pada Jumad 28 Februari sekira pukul 23.55 Wita.

“Korban diserang saat berjalan di tepi danau dengan kedalam kurang lebih 4 meter,” ujar Arief di Kupang pada Senin 3 Maret 2025.

Akibat serangan buaya, korban alami luka di tumit, betis, paha kanan bagian belakang dan pergelangan tangan kanan. Korban sempat di dibawa buaya ke air yang dalam.

Korban selamat setelah temannya mendengar teriakan minta tolong. berhasil memukul kepala buaya dengan kayu.

“Beruntung dia berhasil lepas dari gigitan buaya setelah teman korban yang berada

sekitar 20 m dari lokasi kejadian tiba dan memukul kepala buaya tersebut dengan kayu,” terangnya.

Korban dievakuasi ke pemukiman warga di Desa Sumlili oleh temannya dan selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Ben Boy Kupang.

Arif menjelaskan bahwa Suaka Margasatwa Danau Tuadale merupakan habitat lahan basah danau, hutan bakau, hutan pantai.

Ada juga saluran air yang terhubung ke laut yang memungkinkan buaya mudah berpindah tempat ke lokasi lain melalui saluran air ke laut.

Catatan BBKSDA NTT, Yafet Maak merupakan korban ke 60 dalam 6 tahun terakhir sejak tahun 2019 hingga awal tahun 2025.

“Hingga saat ini, 31 orang telah meninggal dan 29 orang luka hingga cacat,” ungkapnya.

Dia mengatakan, angka korban konflik manusia dengan buaya di wilayah ini cukup tinggi.

“Sejak tahun 2019 tercatat setidaknya 9 kejadian yang menyebabkan jatuhnya korban,” tutupnya.

Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat selalu waspada melakukan aktivitas di perairan sungai maupun perairan dekat muara saat musim hujan. (*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemotongan TKD Kabupaten Alor Capai Rp140 Miliar, Wabup Optimis Program Bisa Berjalan 

12 November 2025 - 11:10 WIB

Aturan Pembatasan Peredaran Ternak Rugikan Pengusaha Babi Asal Sumba

28 Oktober 2025 - 06:48 WIB

Warga Desa Bone Usul Pembangunan Rumah Ibadah, Dewan: Butuh Perhatian Bersama 

8 Agustus 2025 - 05:42 WIB

Belum Nikmati Listrik PLN, Warga 10 Desa di Alor Masih Gunakan Lampu Pelita

1 Agustus 2025 - 05:17 WIB

Ucapan Selamat Merayakan Hari Raya Nyepi

27 Maret 2025 - 05:20 WIB

Trending di Kilas NTT