Kupang – Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) mendukung program Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja melalui penguatan perlindungan tenaga kerja dan pembukaan akses kerja ke luar negeri.
Dukungan tersebut disampaikan Ketua Sinode GMIT, Pendeta Samuel B. Pandie, dalam audiensi bersama Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi NTT, Yosef Rasi, beserta jajaran di Kupang, Selasa (6/10/2026).

Samuel mengatakan GMIT siap membantu pemerintah menyiapkan data koster atau tenaga pelayanan gereja sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan pekerja. Saat ini, GMIT memiliki sekitar 2.426 gereja.
“Koster adalah bagian dari pelayanan gereja. Mereka tentu senang mendengar berita baik terkait perlindungan pekerja,” kata Samuel.
Menurut Samuel, dukungan GMIT juga diarahkan pada pembukaan akses kerja bagi masyarakat NTT ke luar negeri. GMIT telah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara, termasuk Jepang dan Malaysia.
Malaysia menjadi salah satu negara yang dijajaki secara intens. Samuel menyebut terdapat sekitar 100 gereja GMIT di Malaysia yang dapat menjadi jaringan pendampingan bagi warga NTT yang bekerja di negara tersebut.
Ia mengatakan calon pekerja yang perlu didorong untuk memperoleh akses kerja berasal antara lain dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Kupang, serta sejumlah wilayah di Flores.
Namun, Samuel mengingatkan bahwa penyiapan calon pekerja tidak cukup hanya dengan keterampilan teknis. Pembinaan karakter juga perlu menjadi bagian penting dalam mempersiapkan tenaga kerja.
“Sesungguhnya cerdas dan pintar bisa diatur, tetapi pembinaan karakter harus menjadi perhatian. Ini juga yang harus dipikirkan,” ujarnya.
Selain bidang ketenagakerjaan, GMIT menawarkan pemanfaatan sejumlah lahan milik gereja untuk mendukung program pertanian pemerintah. Lahan tersebut berada antara lain di Sabu, Rote, dan Kefamenanu.
Samuel mengatakan lahan tersebut dapat dikembangkan untuk penanaman kelapa yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku susu dan cuka.
“Di Sabu ada lahan milik GMIT, di Rote juga ada, di Kefamenanu ada. Kami siap memberikan dan mengelolanya bersama-sama, asal pemerintah serius,” katanya.
GMIT juga memiliki sekitar 20 sekolah dan tiga universitas yang dapat mendukung program peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi NTT, Yosef Rasi, menyambut baik dukungan GMIT terhadap program pemerintah.
“Kami berterima kasih kepada GMIT dan juga lembaga keagamaan di NTT yang mendukung program ini,” kata Yosef.
Yosef mengatakan pemerintah juga meminta dukungan lembaga keagamaan lainnya, seperti Keuskupan Agung Kupang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTT.
Ia berharap kolaborasi pemerintah dengan lembaga keagamaan dapat mendukung pelaksanaan program pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTT.













