Kupang – Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Ben Mboi Kupang, dr. Robinzon Fangidae berkomitmen memperluas akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur khususnya warga kurang mampu yang membutuhkan penanganan medis tetapi terkendala biaya.
Komitmen ini akan diperkuat melalui rencana kerja sama dengan Pemerintah Kota Kupang untuk membantu masyarakat yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan.

Robinzon bahkan mengakui, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo untuk membahas mekanisme kolaborasi, termasuk penanganan warga yang membutuhkan pertolongan medis tetapi menghadapi keterbatasan pembiayaan.
Ia menegaskan, kondisi darurat harus menjadi prioritas agar pasien segera memperoleh pertolongan tanpa terhambat kekhawatiran mengenai biaya pengobatan.
“Kalau masyarakat mengalami kesulitan, apalagi dalam kondisi gawat darurat, kita harus mendahulukan pelayanan untuk menolong pasien. Persoalan lainnya bisa dikoordinasikan kemudian,” kata Robinzon di Kupang, Jumat (16/10/2026).
Ia berharap, rencana kerja sama ini segera ditindaklanjuti dengan mekanisme yang jelas dan sesuai aturan. Kendala pembiayaan warga kurang mampu nantinya dapat dikoordinasikan bersama pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku.
Robinzon mengungkapkan, RSUP Dr. Ben Mboi saat ini menyediakan beragam layanan, mulai dari rawat jalan, rawat inap, operasi hingga kemoterapi. Rumah sakit rujukan ini juga melayani peserta BPJS Kesehatan sesuai ketentuan.
Dalam menjalankan pelayanan, rumah sakit menghadapi tantangan keterbatasan kapasitas. Dengan sekitar 220 tempat tidur, peningkatan jumlah pasien terkadang menyebabkan penumpukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Pihak rumah sakit terus mengatur alur pelayanan dan penempatan pasien berdasarkan tingkat kegawatan serta kebutuhan medis masing-masing.
Untuk menjangkau pasien yang kesulitan datang ke rumah sakit, RSUP Dr. Ben Mboi juga menyediakan layanan penjemputan yang telah berjalan hampir dua tahun.
Layanan tersebut terutama diperuntukkan bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas, seperti penderita stroke, pasien tidak sadarkan diri, atau warga dengan kondisi lain yang menyulitkan perjalanan menuju rumah sakit.
Keterbatasan armada membuat layanan ini belum dapat menjangkau semua pasien. Masyarakat diimbau berkoordinasi dengan pihak rumah sakit agar kebutuhan penjemputan dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasien.
Perhatian rumah sakit juga diarahkan pada keluarga yang mendampingi pasien selama menjalani pengobatan. Saat ini, pembangunan ruang khusus bagi keluarga pasien sedang berlangsung dengan dilengkapi fasilitas pendukung, termasuk kamar mandi.
“Fasilitas tersebut diharapkan dapat memberikan tempat beristirahat yang lebih layak bagi keluarga pasien, terutama mereka yang harus mendampingi anggota keluarga dalam waktu lama,” ujar Robinzon.
Selain itu, RSUP Dr. Ben Mboi berencana berkoordinasi dengan pemerintah pusat melalui kementerian terkait untuk membangun rumah susun bagi keluarga pasien dari luar Kota Kupang dan pulau-pulau lain di NTT.
Robinzon mengatakan, tempat tinggal sementara menjadi kebutuhan penting bagi keluarga yang harus mendampingi pasien menjalani perawatan berkepanjangan, termasuk pasien kanker yang menjalani kemoterapi.
“Yang datang berobat bukan hanya pasien yang perlu diperhatikan, tetapi juga keluarganya. Kami ingin mereka memiliki tempat yang layak selama mendampingi pasien,” ungkapnya.













