Kupang – Sebanyak 36 peserta akan mewakili Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Nasional di Semarang, Jawa Tengah.
Ketua Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) NTT, Muhammad Anshor, mengatakan para peserta akan mengikuti sejumlah cabang perlombaan.

Cabang yang diikuti antara lain Tartil Qur’an anak-anak putra dan putri serta Tilawah Al-Qur’an kanak-kanak putra dan putri.
Selanjutnya, Kafilah NTT akan mengikuti cabang Tilawah remaja putra dan putri serta Tilawah dewasa putra dan putri.
Pada cabang hafalan Al-Qur’an, peserta NTT akan tampil pada kategori hafalan 1 juz, 5 juz dan 10 juz untuk putra dan putri.
Kafilah NTT juga mengikuti cabang Fahmil Qur’an, Syahril Qur’an dan Kaligrafi Al-Qur’an, masing-masing untuk putra dan putri.
Menurut Anshor, persiapan para peserta telah dilakukan melalui TC di Asrama Haji Kupang. Para peserta mendapatkan pembinaan secara offline maupun virtual sebelum bertolak menuju Semarang.
“Kami berharap seluruh peserta dapat memberikan penampilan terbaik dan membawa nama baik NTT pada MTQ tingkat nasional,” ujarnya di Kupang, Kamis (3/9/2026).
Selain kompetisi, keikutsertaan Kafilah NTT juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya daerah melalui pawai ta’aruf dan kegiatan pameran.
Lantunan Al-Qur’an jadi Doa Bagi Flores
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) meminta Kafilah NTT yang mengikuti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Nasional di Semarang tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan dan kepedulian bagi masyarakat NTT yang sedang menghadapi cobaan.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur saat melepas Kafilah NTT menuju MTQ XXXI Tingkat Nasional di Kupang.
Gubernur mengatakan, keikutsertaan NTT dalam MTQ nasional harus dimaknai lebih dari sekadar kompetisi untuk meraih juara. MTQ, menurutnya, menjadi momentum untuk membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
“MTQ bukan sekadar sebuah perlombaan untuk meraih juara. MTQ harus benar-benar membumikan nilai-nilai Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia mengatakan Al-Qur’an harus menjadi kompas yang menuntun manusia dalam menjalani kehidupan, terutama dalam membangun keimanan, akhlak, persaudaraan, kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, Gubernur berharap penampilan Kafilah NTT tidak berhenti pada keindahan suara dan ketepatan membaca ayat suci Al-Qur’an.
Menurutnya, lantunan ayat suci Al-Qur’an harus mampu menyentuh hati dan menghadirkan ketenangan bagi siapa pun yang mendengarkannya.
“Lantunan Al-Qur’an yang sejati bukan hanya mengandalkan suara yang merdu, tetapi menghadirkan kesadaran dan ketenangan kepada Allah SWT,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga mengajak para kafilah untuk mendoakan masyarakat NTT yang sedang menghadapi dampak bencana di sejumlah wilayah Flores.
Ia menyebut kebahagiaan dan semangat pelepasan Kafilah NTT juga harus diiringi dengan doa serta kepedulian terhadap saudara-saudara yang sedang berduka.
“Semoga ayat suci Al-Qur’an yang akan kalian lantunkan menjadi bagian dari doa yang mengetuk pintu langit, menghadirkan ketenangan bagi hati yang berduka dan mereka yang sedang menghadapi cobaan,” ungkapnya.
Gubernur juga mengingatkan bahwa NTT memiliki kontribusi besar bagi Indonesia, salah satunya melalui nilai kemanusiaan, kepedulian dan kasih sayang.
Ia menyinggung sejarah perjuangan Bung Karno di Ende, NTT, yang menjadi bagian penting dalam sejarah lahirnya gagasan Pancasila.
“Selalu saya bilang, sumbangan NTT itu paling mahal bagi Republik: kemanusiaan, kepedulian dan kasih sayang,” katanya.
Gubernur berharap nilai-nilai tersebut terus dirawat oleh generasi NTT, termasuk para peserta MTQ yang akan membawa nama daerah di tingkat nasional.
Ia juga meminta Kafilah NTT menjadikan momentum MTQ sebagai kesempatan untuk memperkuat iman, membangun akhlak dan mempererat persaudaraan.
Atas nama pemerintah dan masyarakat NTT, Gubernur menyampaikan dukungan penuh kepada seluruh Kafilah NTT yang akan bertanding di Semarang.
Ia berharap para peserta mampu memberikan penampilan terbaik sekaligus membawa pulang pengalamanyang memperkuat kehidupan spiritual dan sosial mereka.













