Menu

Mode Gelap
Rote Ndao Siap Sambut Obor Perdamaian Festival Paskah Pemuda GMIT 2026 Gubernur Melky Kantongi Hasil Investigasi Inspektorat Isu Rasionalisasi PPPK Mengemuka dalam Reses DPRD NTT Bersama Warga DPRD NTT Desak Perbaikan Darurat Tanggul Pantai Papela yang Jebol PHK 9.000 PPPK Ancam IPM NTT, Anton Landi: Bisa Mundur 5–10 Tahun PDIP Dukung Bank NTT Jadi Perseroda, Minta Reformasi Tata Kelola dan Peningkatan Dividen PAD

Kilas NTT

Konflik Buaya dan Manusia Kembali Terjadi di Kabupaten Kupang 

badge-check


					Foto : Istimewa/Ilustrasi Buaya Perbesar

Foto : Istimewa/Ilustrasi Buaya

Kupang – Konflik antara buaya dan manusia kembali terjadi di Suaka Margasatwa (SM) Danau Tuadale Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Serangan buaya kali ini menimpa Yafet Maak (50) warga Desa Sumlili RT 11, RW 06 Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang.

Sebelumnya, pada 10 Februari 2025 korban yang jadi serangan buaya dialami Jiky Orlando (27).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Arief Mahmud mengatakan, Yafet diserang buaya saat memanah ikan pada Jumad 28 Februari sekira pukul 23.55 Wita.

“Korban diserang saat berjalan di tepi danau dengan kedalam kurang lebih 4 meter,” ujar Arief di Kupang pada Senin 3 Maret 2025.

Akibat serangan buaya, korban alami luka di tumit, betis, paha kanan bagian belakang dan pergelangan tangan kanan. Korban sempat di dibawa buaya ke air yang dalam.

Korban selamat setelah temannya mendengar teriakan minta tolong. berhasil memukul kepala buaya dengan kayu.

“Beruntung dia berhasil lepas dari gigitan buaya setelah teman korban yang berada

sekitar 20 m dari lokasi kejadian tiba dan memukul kepala buaya tersebut dengan kayu,” terangnya.

Korban dievakuasi ke pemukiman warga di Desa Sumlili oleh temannya dan selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Ben Boy Kupang.

Arif menjelaskan bahwa Suaka Margasatwa Danau Tuadale merupakan habitat lahan basah danau, hutan bakau, hutan pantai.

Ada juga saluran air yang terhubung ke laut yang memungkinkan buaya mudah berpindah tempat ke lokasi lain melalui saluran air ke laut.

Catatan BBKSDA NTT, Yafet Maak merupakan korban ke 60 dalam 6 tahun terakhir sejak tahun 2019 hingga awal tahun 2025.

“Hingga saat ini, 31 orang telah meninggal dan 29 orang luka hingga cacat,” ungkapnya.

Dia mengatakan, angka korban konflik manusia dengan buaya di wilayah ini cukup tinggi.

“Sejak tahun 2019 tercatat setidaknya 9 kejadian yang menyebabkan jatuhnya korban,” tutupnya.

Ia menghimbau kepada seluruh masyarakat selalu waspada melakukan aktivitas di perairan sungai maupun perairan dekat muara saat musim hujan. (*/)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rote Ndao Siap Sambut Obor Perdamaian Festival Paskah Pemuda GMIT 2026

22 Maret 2026 - 09:45 WIB

Gubernur Melky Kantongi Hasil Investigasi Inspektorat

17 Maret 2026 - 01:56 WIB

Pemotongan TKD Kabupaten Alor Capai Rp140 Miliar, Wabup Optimis Program Bisa Berjalan 

12 November 2025 - 11:10 WIB

Aturan Pembatasan Peredaran Ternak Rugikan Pengusaha Babi Asal Sumba

28 Oktober 2025 - 06:48 WIB

Warga Desa Bone Usul Pembangunan Rumah Ibadah, Dewan: Butuh Perhatian Bersama 

8 Agustus 2025 - 05:42 WIB

Trending di Kilas NTT