Kupang – Saat sebagian pegawai bersiap meninggalkan kantor setelah jam kerja, sejumlah staf Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT justru masih sibuk di halaman kantor.
Mereka saling bekerjasama menyiram tanaman, menyiapkan bibit dan lahan hingga memanen sayuran. Mereka berhasil mengubah pekarangan kantor yang sebelumnya menjadi ruang terbuka kini dimanfaatkan menjadi kebun sayur organik.

Di atas lahan sekitar 100 meter persegi, sebanyak 10 bedeng ditanami berbagai jenis sayuran. Pakcoy putih, kangkung, bayam, paria, terong, lombok hingga brokoli dibudidayakan secara bergantian.
Kangkung, terong dan paria telah selesai dipanen. Sementara enam bedeng pakcoy mulai memasuki masa panen.
Kebun tersebut dikembangkan oleh pegawai Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan sejak tahun lalu. Setiap staf mendapat jadwal untuk merawat tanaman, mulai dari menyiram, menanam hingga memastikan pertumbuhan tanaman.
“Kami manfaatkan pekarangan untuk pemenuhan kebutuhan sayur dan juga penambahan PAD target,” kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Ivonny Beda di Kupang Rabu (9/9/2026).
Ivonny mengatakan, pola budidaya dilakukan dengan menyesuaikan siklus tanaman. Setelah panen, lahan diberikan waktu untuk pemulihan sebelum kembali digunakan untuk penanaman.
“Siklus tanam, panen, tanam. Ada jeda waktu untuk pemulihan tanah,” ujarnya.
Selain ditanam dalam bedeng, sejumlah tanaman juga dibudidayakan menggunakan polibek. Salah satunya lombok yang masih dalam tahap pembibitan.
Di bagian lain pekarangan, tumbuh tanaman pepaya dan terong lalapan. Sejumlah bedeng baru juga tengah dipersiapkan untuk penanaman serai merah.
Hasil panen kemudian dipasarkan di lingkungan ASN Pemerintah Provinsi NTT. Pegawai dari sejumlah organisasi perangkat daerah menjadi salah satu konsumen sayuran yang dihasilkan dari kebun tersebut.
Pola pemasaran itu membuat hasil produksi lebih mudah terserap karena pasar berada di lingkungan kantor sendiri.
“Promosi dan pemasaran ke ASN mendekatkan kami ke pasar. ASN tidak lagi harus ke pasar. Pembeli utama adalah teman-teman ASN,” kata Ivonny.
Dari sisi ekonomi, kebun tersebut juga diarahkan untuk memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Ivonny menyebut hasil produksi dari satu bedeng dapat mencapai sekitar Rp200 ribu. “Kalau hasil produksi dari satu bedeng sekitar Rp200 ribu,” ujarnya.
Untuk tanaman pakcoy, masa budidayanya relatif singkat. Dari persemaian hingga siap dipanen membutuhkan waktu sekitar satu bulan.
Enam bedeng pakcoy yang saat ini memasuki masa panen menjadi bagian dari siklus produksi yang terus dijalankan di lahan tersebut.
Ivonny mengatakan pemanfaatan pekarangan juga dilakukan oleh bidang-bidang lain di lingkungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT. Masing-masing memiliki lahan yang dimanfaatkan untuk kebun sayur.
Bagi para pegawai, pekarangan kantor kini memiliki fungsi lebih dari sekadar ruang terbuka. Lahan tersebut menjadi tempat bercocok tanam, memenuhi kebutuhan sayur, sekaligus menghasilkan nilai ekonomi.
“Ini merupakan hasil kerja teman-teman sejak tahun lalu,” pungkasnya.













