Menu

Mode Gelap
Kejati NTT Komitmen Dampingi Bank NTT Secara Hukum Bank NTT Perkuat Pendampingan Hukum Bersama Kejati Jokowi Dinilai Masih Memiliki Ikatan Emosional dengan Masyarakat NTT Simson Polin: Kunjungan Jokowi Jadi Kehormatan bagi Masyarakat NTT Transformasi Bank NTT Berbuah Manis, Laba Bersih Melonjak 31,94 Persen TPID NTT Libatkan Sekolah Kendalikan Inflasi Lewat Cabai

Politik

Dewan Minta Perda Tentang Retribusi dan Pajak Daerah Direvisi 

badge-check


					Anggota DPRD Provinsi NTT, Anton Mahemba Perbesar

Anggota DPRD Provinsi NTT, Anton Mahemba

Kupang – Anggota Komisi IV DPRD NTT, Anton Mahemba meminta pemerintah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

Revisi ini diperlukan untuk membantu setiap perangkat daerah menyerap pendapatan guna membantu pencapaian realisasi PAD tahun 2025 sebesar Rp2.8 triliun yang ditetapkan gubernur NTT.

Pasalnya, Perda ini tidak menjelaskan secara detail mana bagian pendapatan untuk Badan Pendapatan Daerah dan mana untuk dinas atau perangkat daerah.

“Hampir semua dinas terhambat penyerapan PAD karena Perda ini, jadi Perda ini perlu direvisi,” ujar Anton di Kupang beberapa waktu lalu.

Seperti yang dialami Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait pajak yang bersumber dari Galian C seperti aktivitas penambangan pasir.

Dalam prosesnya, penambangan pasir harus melalui izin dari kabupaten dan juga izin yang harus dikeluarkan oleh provinsi yakni Izin usaha Pertambangan Rakyat (Ipar).

Namun dalam pelaksanaannya, pajak yang diterima dari aktivitas penambangan pasir hanya dinikmati kabupaten/kota.

Namun berdasarkan aturan terbaru yang dikeluarkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi berpeluang memperoleh manfaat dari aktivitas penambangan Galian C dengan opsen pajak 25 persen untuk provinsi dan 75 persen untuk kabupaten/kota.

Aturan terbaru ini harus pula diikuti dengan perubahan pada Perda Nomor 1 Tahun 2024 Tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

“Ketika Perda ini direvisi, maka 25 persen yang jadi target mereka sebagai pendapatan PAD bisa masuk ke dinas mereka. Ini kuncinya,” jelasnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Dinas Perhubungan Provinsi NTT. Dinas Perhubungan kesulitan merealisasikan pendapatan pada ruas jalan provinsi.

“Seluruh pendapatan akan masuk ke sebagai sumber dari Badan Pendapatan Daerah Provinsi bukan sumber pendapatan dinas,” terangnya.

Anton juga menyinggung tentang program elektrifikasi listrik di NTT yang belum maksimal karena masih ada kabupaten di NTT yang masih di bawah 90 persen elektrifikasi listrik

Hal senada juga disampaikan anggota Komisi IV DPRD NTT, Saiful Sengaji. Menurutnya, Pemerintah perlu merevisi Perda Pajak dan Retribusi Daerah.

Revisi ini dilakukan agar pemerintah kabupaten dan pemerintah provinsi tidak bersinggungan terkait pembagian hasil pajak dari Galian C.

“Dewan meminta pemerintah serius memperhatikan soal ini. Supaya pembagian hasil bisa jelas,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPRD NTT Soroti Pengalihan Anggaran Jalan Ba’a–Batutua

23 Juli 2026 - 09:13 WIB

Reses DPRD NTT Jadi Ruang Curhat Warga Manulai II

28 Juni 2026 - 09:29 WIB

Reses DPRD NTT di Oetete, Warga Keluhkan MBG, PKH, BBM Langka hingga Jalan Rusak

28 Juni 2026 - 00:46 WIB

DPRD NTT Desak Pemerintah Tetapkan Kekeringan sebagai Bencana Nasional

9 Juni 2026 - 02:09 WIB

PSI Rote Ndao Siap Hadapi Verifikasi KPU dan Pemilu 2029, Target Pimpinan DPRD 

17 Mei 2026 - 16:29 WIB

Trending di Politik